Rabu, 20 Februari 2013

PROPOSAL PENELITIAN



PENGGUNAAN KITAB AL-‘ALY 
DALAM MENINGKATKAN MAHARATUL QIRO’AH
DI LEMBAGA OCEAN PARE KEDIRI
1.      Latar Belakang خلفية البحث
Di antara ajaran Islam yang banyak mendapatkan tekanan adalah perintah untuk belajar. Belajar sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an adalah membaca. pertama yang diterima oleh Rasulullah saw.
إقرأ باسم ربّك الّذي خلق. (العلق:۱)
Al-Qur’an adalah wahyu Allah swt. yang diturunkan dengan berbahasa Arab, ini sesuai dengan firman Allah swt.:
إنّا جعلنه قرأناً عربيّا لعلّكم تعقلون. وإنَّهُ فِي أمّ الكتاب لدينا لعليٌّ حكيمٌ(الزخرف : ۳-٤)
Kata عَلِيّ ٌ berarti bahwa ia tidak bisa dimengerti oleh akal orang awam. Adapun حَكِيْمٌ  berarti bahwa ia sedemikian kukuh. Al-Qur’an dan bahasa Arab dalam hal ini tidak perlu diragukan, terutama karena Allah berfirman “agar kamu sekalian memahami[1]”.

Bahasa Arab identik dengan bahasa umat Islam. Banyak asumsi masyarakat yang berkembang bahwa bahasa Arab adalah bahsa umat Islam. Hal ini bukanlah hal yang perlu diperdebatkan, sebab seluruh ajaran umat Islam yang berasal dari Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah berbahasa Arab. Bahkan karya-karya para ‘ulama yang menjadi warisan bagi intelektual muslim adalah berbahasa arab.

Bahasa Arab juga diklaim sebagai “bahasa Tuhan” (mengandung unsur keilahian) karena Al-Qur’an merupakan kalam Tuhan, berupa bahasa Arab yang terbukukan. Penghadiran bahasa Arab tersebut kemudian mengalami proses sejarah[2]. Di antara pendapat mengenai asal mula lahirnya bahasa Arab, yaitu bahasa Arab ada sejak zaman Nabi Adam, sehingga perintis tulisan Arab dan pola kalimat bahasa Arab adalah Adam. Pendapat ini merupakan pendapat yang paling klasik dan merupakan interpretasi secara langsung dari firman Allah:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلآئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِى بِأَسْمَآءِ هَـآؤُلآءِ إِنْ كُنْتُمْ صٰـَدِقِيْنَ. (البقرة : ٣۱)[3]
Secara ushul fiqh, mempelajari tata bahasa Arab hukumnya wajib sebab mempelajari washilah kepada yang wajib yakni mempelajari Al-Qur’an  adalah wajib, maka mempelajari bahasa Arab pun jadi wajib hukumnya, sebagaimana kaidah ushul fiqh menjelaskan bahwa :
ما لا يتمّ الواجب المطلق إلابه فهوواجب[4]                                             
Membaca berarti menelaah, keduanya sama-sama berbasis bacaan. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yaitu qira’ah diartikan sebagai membaca, sedangkan menela’ah lebih menekankan pada aspek analisis dan pemahaman pada bacaan.[5]
Dalam pembelajaran Bahasa Arab dikenal ada empat keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa, yaitu keterampilan mendengar, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Membaca (maharotul qiro’ah) memiliki keterampilan tersendiri, dimana keterampilan ini merupakan hal yang sangat urgen dalam memahami teks berbahasa arab, terutama pada kutub at-turats (kitab klasik). Memahami kitab klasik bukan sekedar membaca kemudian menghafal, namun lebih kepada menganalisa dan menyerap makna yang terkandung dalam teks kitab tersebut.

Kutub at-turats adalah salah satu warisan salafuna as-shalih yang patut dilestarikan. Di Indonesia kitab-kitab klasik masih sangat terjaga kelestariannya. Hal ini didukung dan dibuktikan dengan berkembangnya pendidikan pesantren di Indonesia. Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, mengalami perkembangan seiring dengan kencangnya laju peradaban. Kutub at-turats tetap menjadi pedoman dalam istinbath hukum Islam.

Untuk dapat membacanya butuh keterampilan yang tidak dapat dimiliki dengan cara yang instan. Bahasa Arab yang digunakan dalam kutub at-turats memiliki literatur yang cukup tinggi, sehingga untuk memahaminya tidak dengan cara yang sederhana. Secara rinci problematika dalam mempelajari bahasa Arab khususnya dalam maharotul qiro’ah adalah factor linguistic dan non linguistic. Yaitu dalam aspek material dan aspek formalnya. Dalam aspek material, misalkan dalam pembelajaran qawa’id dan penerapannya dalam membaca kitab. Sedangkan dalam aspek formal, yaitu berupa metode dan pendekatan, serta strategi yang digunakan oleh guru dalam mencapai target pemahaman siswa. 

Berdasarkan beberapa hasil pengamatan, kondisi riil kegagalan pembelajaran qawa’id secara umum adalah diakibatkan oleh beberapa hal. Diantaranya, adalah guru menitikberatkan perhatian pada qawa’id untuk menghafal nadzam[6] serta materi yang dipelajari. Fungsi qawaid sebagai alat untuk membaca kitab dengan harakat yang benar kurang diperhatikan. Hal ini juga menimbulkan kesan bahwa pelajaran qawa’id ini terkesan parsial dan terpisah-pisah. Materi qawa’id terlihat tidak seiring dengan implementasinya terhadap maharotul qiro’ah siswa.
 
Sejauh pengalaman penulis dalam melakukan kegiatan belajar khususnya dalam meningkatkan maharotul qiro’ah hanya mengenal metode klasik yang dipandang kurang efektif dalam mengaplikasikan ilmu nahwu-sharraf pada praktik membaca kitab yang dirasa tidak seiring. Ilmu nahwau yang diajarkan terkesan monoton, terlalu berbelit dan jauh dari nilai-nilai humanis. Berasal dari pengalaman belajar, penulis tertarik terhadap metode dalam kitab Al-Aly yang pernah ditemukan dalam lapangan.

Kitab Al-Aly tergolong kitab yang sangat baru. Kitab ini merupakan ringkasan dari metode Amtsilati yang sudah banyak dikenal di kalangan pesantren sebagai metode cepat membaca kitab. Kitab Al-Aly merupakan kitab dengan penerapan metode qowa’id wat-tathbiq yang disusun dengan sangat sederhana agar dapat mudah dipahami oleh para pemula sehingga ringan dipelajari oleh semua kalangan.
Metode Al-Aly masih tergolong baru bagi penulis, oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Penggunaan Kitab al- ‘Aly dalam Meningkatkan Maharatul Qiro’ah Di Lembaga OCEAN Pare Kediri”

2.      Rumusan Masalah قضايا البحث
Adapun masalah yang dapat dirumuskan dari latar belakang tersebut adalah:
-          Bagaimana implementasi metode kitab Al-Aly dalam meningkatkan maharotul qiro’ah di OCEAN?
-          Apa saja faktor-faktor yang mendukung implementasi metode Al-Aly  dalam meningkatkan maharotul qiro’ah di OCEAN?
-          Apa saja faktor-faktor penghambat implementasi Metode al-Aly dan pemecahannya dalam meningkatkan Maharotul qiro’ah di OCEAN?
3.      Tujuan Penelitian أهداف البحث
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan tujuan mencari solusi dari permasalahan tersebut, yakni:
-          Untuk mendeskripsikan implementasi metode al-Aly dalam meningkatkan maharotul qiro’ah di OCEAN.
-          Untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mendukung implementasi metode al-Aly dalam meningkatkan maharotul qiro’ah di OCEAN.
-          Untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang menghambat implementasi metode al-Aly dalam meningkatkan maharotul qiro’ah di OCEAN serta pemecahannya.

4.      Penegasan Judul  توضيح المصطلحات
Dalam membahas suatu masalah agar tidak terjadi kerancuan maka peneliti perlu menjelaskan istilah yang terdapat dalam judul ini.
    1. Kitab al-‘Aly
Kitab al- ‘Aly adalah salah satu kitab pedoman praktis membaca kitab klasik yang merupakan suatu ringkasan metode Amtsilati Jepara yang sengaja disusun lebih sederhana dengan tujuan agar pelajar lebih mudah dipahami, khususnya bagi pembaca kitab klasik. Pembelajaran kitab Al-Aly terdiri dari tiga tahap dan tiga bulan. Pada bulan pertama dan kedua, siswa diberi materi beberapa rumus praktis untuk menghafal dan memahami kalimat dengan mudah. Teori ini disertai sedikit contoh aplikasi yang diambil dari kitab Matn Fathul Qorib. Setelah siswa dinilai cukup mampu, pada bulan ketiga adalah tahap pendalaman kitab yang dilatih secara intensif hingga siswa memiliki keterampilan membaca yang baik.
    1. Maharotul qiro’ah
Menurut Izzan keterampilan membaca yaitu pelajaran membaca yang sasarannya agar siswa dapat membaca dengan benar dan memahami apa yang dibaca[7].
5.      Manfaat penelitian  منافع البحث
Kitab Al-Aly merupakan metode yang disarikan dari kitab Amtsilati Jepara yang dikenal sebagai langkah praktis dalam meningkatkan maharotul qiro’ah. KitabAl-Aly memperingkas dan menyederhanakan dengan konsep yang lebih dasar dan mudah difahami oleh peserta didik.
Adapun manfaat yang dapat diperoleh adalah:
-          adanya kontribusi pemahaman bagi mahasiswa ataupun dosen tentang metode pembelajaran menggunakan kitab al-Aly
-          bermanfaat bagi pengajar maharotul qiro’ah secara umum dengan mengetahui adanya kitab al-‘Aly dengan metode qawa’id wat tathbiq  dalam kitab al-Aly
-          ada alternatif pemikiran bagi pelajar, pengajar maupun pengelola lembaga agar diterapkan metode kitab al-Aly untuk membantu peningkatan maharotu qiro’ah siswa.  
6.      Metode Penelitian طريقة البحث
  • Subyek penelitian
Adapun yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah OCEAN Lembaga Pengembangan Bahasa yang berada dalam suatu kelompok bimbingan belajar yang dilaksanakan secara intensif dan formal secara administrative maupun kelembagaan.
  • Metode pengumpulan data
Pengumpulan data pada dasarnya merupakan serangkaian proses yang dilakukan sesuai dengan metode penelitian yang digunakan. Teknik kualitatif mengumpulkan data terutama dalam bentuk kata daripada angka. Studinya menghasilkan deskripsi cerita terperinci, analisis dan interpretasi fenomena. [8] Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan beberapa instrumen untuk mengumpulkan data.
Ø      Observasi
Menurut Suharsaputra observasi berarti memerhatikan dengan penuh perhatian seseorang atau sesuatu, memerhatikan berarti mengamati tentang apa yang terjadi[9]. Dalam penjelasan selanjutnya, dikatakan bahwa observasi merupakan cara pengumpulan data yang cukup andal karena peneliti dapat secara langsung melihat kegiatan secara rinci, dengan mengamati langsung peneliti juga dapat melihat setting lingkungan yang ada dimana terjadinya kegiatan sehingga pemahaman situasi akan lebih komprehensif.
Ø      Interview
Metode pengumpulan data melalui wawancara (interview) dalam penelitian kualitatif umumnya dimaksudkan untuk lebih mendalami suatu kejadian dan atau subjek penelitian. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif diperlukan suatu wawancara mendalam (in-depth interview), baik dalam suatu situasi maupun dalam beberapa tahapan pengumpulan data.. wawancara amat diperlukan dalam penelitian kualitatif, karena banyak hal yang tidak mungkin diobservasi langsung. Seperti perasaan, pikiran, motif, serta pengalaman masa lalu responden/informan. Oleh karena itu, wawancara dapat dipandang sebagai cara untuk memahami dan memasuki perspektif orang lain tentang dunia dan kehidupan sosial mereka. [10]
Ø      Dokumentasi
Dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak. Dapat berupa catatan anekdot, surat, buku harian, dan dokumen-dokumen. Dokumen kantor termasuk lembaran internal, komunikasi bagi publik yang beragam, file siswa dan pegawai, deskripsi program, dan data statistik.[11]
  • Metode Analisa Data
Data yang telah terkumpul di lapangan dianalisis secara induktif dan berlangsung selama pengumpulan data di lapangan, serta dilakukan secara terus menerus. Analisis data yang dilakukan meliputi mereduksi data, menyajikan data, display data, menarik kesimpulan dan melaksanakan verivikasi data.
7.      kajian terdahulu البحث السابقة
untuk menghindari kesamaan dengan tema penelitian yang sudah pernah dilakukan, penulis melakukan suatu telaah pada hasil penelitian beberapa tahun sebelumnya. Namun peneliti belum menemukan kemiripan ataupun kesamaan dengan peneitian yang akan dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa tidak mudahnya menemukan metode yang dikodifikasi menjadi sebuah kitab dengan pendekatan yang mudah sehingga menguatkan peneliti dalam melaksanakan penelitian ini. 
8.      Sistematika Penelitian خُطّة البحث
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, secara global peneliti menyajikan sistematika pembahasan sebagai berikut:
BAB I
:
PENDAHULUAN
Bagian pendahuluan ini merupakan pencerminan dari isi proposal, yang dijabarkan dalam beberapa sub yaitu; latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, penegasan judul, manfaat penelitian, metode penelitian, kajian terdahulu, sistematika pembahasan dan jadwal penelitian.
BAB II
:
KAJIAN TEORITIS
Dalam pembahasan ini merupakan pandangan teoritis yang diambil dari buku-buku yang ada kaitannya dengan metode pembelajaran maharotul qiro’ah, tentang metode Al-Aly, karakteristik dan implementasinya.
BAB III
:
METODE PENELITIAN
Menjelaskan metode yang digunakan, serta teknik pengumpulan data, teknik analisa data,. Kerangka metodologi penelitian ini  berfungsi sebagai pisau analisis dalam mengungkapkan kebenarandari hasil penelitian ini.
BAB IV
:
LAPORAN PENELITIAN
Berisi laporan penelitian tentang penerapan metode Al- Aly, faktor-faktor yang mendukung dalam metode ini, serta yang menghambat dalam imlementasinya. 
BAB V
:
PENUTUP
Akhir uraian skripsi ini yang berisikan kesimpulan hasil penelitian, jawaban dari rumusan masalah  serta saran dan catatan yang terkait dengan penelitian ini.

9.      Jadwal Penelitian جدوال


[1] Lihat Mujib, Fathul. 2010. Rekonstruksi Pendidikan bahasa Arab….. hal. 34.
[2] Ibid. hal. 168
[3] Ibid. hal 35
[4] (زكريّاالانصاري: غاية الوصول. صفحة 29)
[5] Syaiful Mustofa. 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif. Malang, UIN Press. Hal 161.
[6] Biasanya, untuk memperoleh pemahaman tentang qawa’id guru mewajibkan siswa menghafal bait-bait teks dalam kitab Nahwu-Sharaf. Seperti al Jurumiyah , Imrithy, Alfiyah, dan lain-lain.
[7] Izzan, Ahmad. 2004. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Humaniora. Hal 119.
[8] Suharsaputra, Uhar. 2012. metode Penelitian…. Hal. 208
[9] Ibid. hal. 209
[10] Ibid. hal. 213-214.
[11] Ibid. hal. 215



Tidak ada komentar:

Posting Komentar