PENGGUNAAN KITAB AL-‘ALY
DALAM MENINGKATKAN MAHARATUL QIRO’AH
DI LEMBAGA OCEAN PARE KEDIRI
1.
Latar
Belakang خلفية البحث
Di antara ajaran Islam
yang banyak mendapatkan tekanan adalah perintah untuk belajar. Belajar
sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an adalah
membaca. pertama yang diterima oleh Rasulullah
saw.
إقرأ باسم ربّك الّذي خلق. (العلق:۱)
Al-Qur’an adalah wahyu
Allah swt. yang diturunkan dengan berbahasa Arab, ini sesuai dengan firman
Allah swt.:
إنّا جعلنه قرأناً عربيّا لعلّكم تعقلون. وإنَّهُ
فِي أمّ الكتاب لدينا لعليٌّ حكيمٌ(الزخرف : ۳-٤)
Kata عَلِيّ ٌ berarti bahwa ia tidak bisa
dimengerti oleh akal orang awam. Adapun حَكِيْمٌ berarti bahwa ia sedemikian kukuh. Al-Qur’an
dan bahasa Arab dalam hal ini tidak perlu diragukan, terutama karena Allah
berfirman “agar kamu sekalian memahami[1]”.
Bahasa Arab identik dengan bahasa umat Islam.
Banyak asumsi masyarakat yang berkembang bahwa bahasa Arab adalah bahsa umat
Islam. Hal ini bukanlah hal yang perlu diperdebatkan, sebab seluruh ajaran umat
Islam yang berasal dari Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah berbahasa Arab. Bahkan
karya-karya para ‘ulama yang menjadi warisan bagi intelektual muslim adalah
berbahasa arab.
Bahasa Arab juga diklaim sebagai “bahasa Tuhan”
(mengandung unsur keilahian) karena Al-Qur’an merupakan kalam Tuhan, berupa
bahasa Arab yang terbukukan. Penghadiran bahasa Arab tersebut kemudian
mengalami proses sejarah[2].
Di antara pendapat mengenai asal mula lahirnya bahasa Arab, yaitu bahasa Arab ada
sejak zaman Nabi Adam, sehingga perintis tulisan Arab dan pola kalimat bahasa
Arab adalah Adam. Pendapat ini merupakan pendapat yang paling klasik dan
merupakan interpretasi secara langsung dari firman Allah:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ
عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلآئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِى بِأَسْمَآءِ هَـآؤُلآءِ إِنْ
كُنْتُمْ صٰـَدِقِيْنَ. (البقرة : ٣۱)[3]
Secara ushul fiqh, mempelajari tata bahasa Arab
hukumnya wajib sebab mempelajari washilah kepada yang wajib yakni
mempelajari Al-Qur’an adalah wajib, maka mempelajari bahasa Arab pun
jadi wajib hukumnya, sebagaimana kaidah ushul fiqh menjelaskan bahwa :
Membaca berarti menelaah,
keduanya sama-sama berbasis bacaan. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan
yaitu qira’ah diartikan sebagai membaca, sedangkan menela’ah lebih
menekankan pada aspek analisis dan pemahaman pada bacaan.[5]
Dalam pembelajaran Bahasa
Arab dikenal ada empat keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa, yaitu
keterampilan mendengar, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan
keterampilan menulis. Membaca (maharotul qiro’ah) memiliki keterampilan
tersendiri, dimana keterampilan ini merupakan hal yang sangat urgen dalam
memahami teks berbahasa arab, terutama pada kutub at-turats (kitab
klasik). Memahami kitab klasik bukan sekedar membaca kemudian menghafal, namun
lebih kepada menganalisa dan menyerap makna yang terkandung dalam teks kitab
tersebut.
Kutub at-turats adalah salah satu warisan salafuna as-shalih yang
patut dilestarikan. Di Indonesia kitab-kitab klasik masih sangat terjaga
kelestariannya. Hal ini didukung dan dibuktikan dengan berkembangnya pendidikan
pesantren di Indonesia.
Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia,
mengalami perkembangan seiring dengan kencangnya laju peradaban. Kutub
at-turats tetap menjadi pedoman dalam istinbath hukum Islam.
Untuk dapat membacanya butuh keterampilan yang
tidak dapat dimiliki dengan cara yang instan. Bahasa Arab yang digunakan dalam kutub
at-turats memiliki literatur yang cukup tinggi, sehingga untuk memahaminya
tidak dengan cara yang sederhana. Secara rinci problematika dalam mempelajari
bahasa Arab khususnya dalam maharotul qiro’ah adalah factor linguistic
dan non linguistic. Yaitu dalam aspek material dan aspek formalnya. Dalam aspek
material, misalkan dalam pembelajaran qawa’id dan penerapannya dalam membaca
kitab. Sedangkan dalam aspek formal, yaitu berupa metode dan pendekatan, serta
strategi yang digunakan oleh guru dalam mencapai target pemahaman siswa.
Berdasarkan beberapa hasil pengamatan, kondisi
riil kegagalan pembelajaran qawa’id secara umum adalah diakibatkan oleh
beberapa hal. Diantaranya, adalah guru menitikberatkan perhatian pada qawa’id
untuk menghafal nadzam[6]
serta materi yang dipelajari. Fungsi qawaid sebagai alat untuk membaca kitab
dengan harakat yang benar kurang diperhatikan. Hal ini juga menimbulkan kesan
bahwa pelajaran qawa’id ini terkesan parsial dan terpisah-pisah. Materi qawa’id
terlihat tidak seiring dengan implementasinya terhadap maharotul qiro’ah
siswa.
Sejauh pengalaman penulis dalam melakukan
kegiatan belajar khususnya dalam meningkatkan maharotul qiro’ah hanya mengenal
metode klasik yang dipandang kurang efektif dalam mengaplikasikan ilmu
nahwu-sharraf pada praktik membaca kitab yang dirasa tidak seiring. Ilmu nahwau
yang diajarkan terkesan monoton, terlalu berbelit dan jauh dari nilai-nilai
humanis. Berasal dari pengalaman belajar, penulis tertarik terhadap metode
dalam kitab Al-Aly yang pernah ditemukan dalam lapangan.
Kitab Al-Aly tergolong kitab yang sangat baru.
Kitab ini merupakan ringkasan dari metode Amtsilati yang sudah banyak dikenal
di kalangan pesantren sebagai metode cepat membaca kitab. Kitab Al-Aly merupakan
kitab dengan penerapan metode qowa’id wat-tathbiq yang disusun dengan
sangat sederhana agar dapat mudah dipahami oleh para pemula sehingga ringan
dipelajari oleh semua kalangan.
Metode Al-Aly masih tergolong baru bagi
penulis, oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Penggunaan
Kitab al- ‘Aly dalam Meningkatkan Maharatul Qiro’ah Di Lembaga OCEAN
Pare Kediri”
2.
Rumusan
Masalah قضايا البحث
Adapun masalah yang dapat dirumuskan dari latar
belakang tersebut adalah:
-
Bagaimana
implementasi metode kitab Al-Aly dalam meningkatkan maharotul qiro’ah di
OCEAN?
-
Apa saja
faktor-faktor yang mendukung implementasi metode Al-Aly dalam meningkatkan maharotul qiro’ah di
OCEAN?
-
Apa saja
faktor-faktor penghambat implementasi Metode al-Aly dan pemecahannya dalam
meningkatkan Maharotul qiro’ah di OCEAN?
3.
Tujuan Penelitian أهداف البحث
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan tujuan
mencari solusi dari permasalahan tersebut, yakni:
-
Untuk
mendeskripsikan implementasi metode al-Aly dalam meningkatkan maharotul
qiro’ah di OCEAN.
-
Untuk
mendeskripsikan faktor-faktor yang mendukung implementasi metode al-Aly dalam
meningkatkan maharotul qiro’ah di OCEAN.
-
Untuk
mendeskripsikan faktor-faktor yang menghambat implementasi metode al-Aly dalam
meningkatkan maharotul qiro’ah di OCEAN serta pemecahannya.
4.
Penegasan
Judul توضيح
المصطلحات
Dalam membahas suatu masalah agar tidak terjadi
kerancuan maka peneliti perlu menjelaskan istilah yang terdapat dalam judul
ini.
- Kitab al-‘Aly
Kitab al- ‘Aly adalah salah
satu kitab pedoman praktis membaca kitab klasik yang merupakan suatu ringkasan
metode Amtsilati Jepara yang sengaja disusun lebih sederhana dengan tujuan agar
pelajar lebih mudah dipahami, khususnya bagi pembaca kitab klasik. Pembelajaran
kitab Al-Aly terdiri dari tiga tahap dan tiga bulan. Pada bulan pertama dan
kedua, siswa diberi materi beberapa rumus praktis untuk menghafal dan memahami
kalimat dengan mudah. Teori ini disertai sedikit contoh aplikasi yang diambil
dari kitab Matn Fathul Qorib. Setelah siswa dinilai cukup mampu,
pada bulan ketiga adalah tahap pendalaman kitab yang dilatih secara intensif
hingga siswa memiliki keterampilan membaca yang baik.
- Maharotul qiro’ah
Menurut Izzan keterampilan membaca yaitu
pelajaran membaca yang sasarannya agar siswa dapat membaca dengan benar dan
memahami apa yang dibaca[7].
5.
Manfaat
penelitian منافع البحث
Kitab Al-Aly merupakan metode yang disarikan
dari kitab Amtsilati Jepara yang dikenal sebagai langkah praktis dalam
meningkatkan maharotul qiro’ah. KitabAl-Aly memperingkas dan
menyederhanakan dengan konsep yang lebih dasar dan mudah difahami oleh peserta
didik.
Adapun manfaat yang dapat diperoleh adalah:
-
adanya
kontribusi pemahaman bagi mahasiswa ataupun dosen tentang metode pembelajaran
menggunakan kitab al-Aly
-
bermanfaat
bagi pengajar maharotul qiro’ah secara umum dengan mengetahui adanya
kitab al-‘Aly dengan metode qawa’id wat tathbiq dalam kitab al-Aly
-
ada
alternatif pemikiran bagi pelajar, pengajar maupun pengelola lembaga agar
diterapkan metode kitab al-Aly untuk membantu peningkatan maharotu qiro’ah siswa.
6.
Metode
Penelitian طريقة البحث
- Subyek penelitian
Adapun yang menjadi subyek
dalam penelitian ini adalah OCEAN Lembaga Pengembangan Bahasa yang berada dalam
suatu kelompok bimbingan belajar yang dilaksanakan secara intensif dan formal
secara administrative maupun kelembagaan.
- Metode pengumpulan data
Pengumpulan data pada dasarnya merupakan
serangkaian proses yang dilakukan sesuai dengan metode penelitian yang
digunakan. Teknik kualitatif mengumpulkan data terutama dalam bentuk kata
daripada angka. Studinya menghasilkan deskripsi cerita terperinci, analisis dan
interpretasi fenomena. [8]
Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan beberapa instrumen untuk
mengumpulkan data.
Ø
Observasi
Menurut Suharsaputra observasi berarti
memerhatikan dengan penuh perhatian seseorang atau sesuatu, memerhatikan
berarti mengamati tentang apa yang terjadi[9].
Dalam penjelasan selanjutnya, dikatakan bahwa observasi merupakan cara
pengumpulan data yang cukup andal karena peneliti dapat secara langsung melihat
kegiatan secara rinci, dengan mengamati langsung peneliti juga dapat melihat
setting lingkungan yang ada dimana terjadinya kegiatan sehingga pemahaman
situasi akan lebih komprehensif.
Ø
Interview
Metode pengumpulan data melalui wawancara
(interview) dalam penelitian kualitatif umumnya dimaksudkan untuk lebih
mendalami suatu kejadian dan atau subjek penelitian. Oleh karena itu, dalam
penelitian kualitatif diperlukan suatu wawancara mendalam (in-depth interview),
baik dalam suatu situasi maupun dalam beberapa tahapan pengumpulan data..
wawancara amat diperlukan dalam penelitian kualitatif, karena banyak hal yang
tidak mungkin diobservasi langsung. Seperti perasaan, pikiran, motif, serta
pengalaman masa lalu responden/informan. Oleh karena itu, wawancara dapat
dipandang sebagai cara untuk memahami dan memasuki perspektif orang lain
tentang dunia dan kehidupan sosial mereka. [10]
Ø
Dokumentasi
Dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu
yang ditulis atau dicetak. Dapat berupa catatan anekdot, surat, buku harian, dan dokumen-dokumen.
Dokumen kantor termasuk lembaran internal, komunikasi bagi publik yang beragam,
file siswa dan pegawai, deskripsi program, dan data statistik.[11]
- Metode Analisa Data
Data yang telah terkumpul di lapangan
dianalisis secara induktif dan berlangsung selama pengumpulan data di lapangan,
serta dilakukan secara terus menerus. Analisis data yang dilakukan meliputi
mereduksi data, menyajikan data, display data, menarik kesimpulan dan
melaksanakan verivikasi data.
7.
kajian terdahulu البحث السابقة
untuk menghindari kesamaan dengan tema penelitian yang sudah
pernah dilakukan, penulis melakukan suatu telaah pada hasil penelitian beberapa
tahun sebelumnya. Namun peneliti belum menemukan kemiripan ataupun kesamaan
dengan peneitian yang akan dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa tidak mudahnya
menemukan metode yang dikodifikasi menjadi sebuah kitab dengan pendekatan yang
mudah sehingga menguatkan peneliti dalam melaksanakan penelitian ini.
8.
Sistematika
Penelitian خُطّة البحث
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, secara global
peneliti menyajikan sistematika pembahasan sebagai berikut:
|
BAB I
|
:
|
PENDAHULUAN
Bagian pendahuluan ini
merupakan pencerminan dari isi proposal, yang dijabarkan dalam beberapa sub
yaitu; latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, penegasan judul, manfaat
penelitian, metode penelitian, kajian terdahulu, sistematika pembahasan dan
jadwal penelitian.
|
|
BAB II
|
:
|
KAJIAN TEORITIS
Dalam pembahasan ini
merupakan pandangan teoritis yang diambil dari buku-buku yang ada kaitannya
dengan metode pembelajaran maharotul qiro’ah, tentang metode Al-Aly,
karakteristik dan implementasinya.
|
|
BAB III
|
:
|
METODE PENELITIAN
Menjelaskan metode yang
digunakan, serta teknik pengumpulan data, teknik analisa data,. Kerangka
metodologi penelitian ini berfungsi
sebagai pisau analisis dalam mengungkapkan kebenarandari hasil penelitian
ini.
|
|
BAB IV
|
:
|
LAPORAN PENELITIAN
Berisi laporan penelitian
tentang penerapan metode Al- Aly, faktor-faktor yang mendukung dalam metode
ini, serta yang menghambat dalam imlementasinya.
|
|
BAB V
|
:
|
PENUTUP
Akhir uraian skripsi ini
yang berisikan kesimpulan hasil penelitian, jawaban dari rumusan masalah serta saran dan catatan yang terkait dengan
penelitian ini.
|
9.
Jadwal
Penelitian جدوال
[1]
Lihat Mujib, Fathul. 2010. Rekonstruksi Pendidikan bahasa Arab….. hal.
34.
[2]
Ibid. hal. 168
[3]
Ibid. hal 35
[5]
Syaiful Mustofa. 2011. Strategi
Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif. Malang,
UIN Press. Hal 161.
[6]
Biasanya, untuk memperoleh pemahaman tentang qawa’id guru mewajibkan
siswa menghafal bait-bait teks dalam kitab Nahwu-Sharaf. Seperti al
Jurumiyah , Imrithy, Alfiyah, dan lain-lain.
[7] Izzan, Ahmad. 2004. Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung:
Humaniora. Hal 119.
[8]
Suharsaputra, Uhar. 2012. metode Penelitian…. Hal. 208
[9]
Ibid. hal. 209
[10]
Ibid. hal. 213-214.
[11]
Ibid. hal. 215

Tidak ada komentar:
Posting Komentar